2

Tepuk Jidat Bersama

Kak Ben: "Terus ntar mau ke mana?"
Saya: "Arsitektur aja deh Kak..."
Kak Ben: "Loh emangnya PWK kenapa?"
Saya: "Kayaknya kurang kepake gitu... liat aja, sekarang Bandung amburadul."
-percakapan jaman OSKM

Maaf saya sudah nge-judge PWK sebelum tau isinya. Sayangnya saya tidak akan menarik kata-kata karena setelah menjalani mata kuliah pengenalan jurusan pun anggapan saya ternyata tidak berubah :P Eh tapi kan gak adil kalau saya bilang A tanpa ada argumen, betul? Izinkan saya memaparkan essay panjang yang sebetulnya tidak penting. (enggak panjang-panjang amat sih...)

PWK adalah singkatan dari Perencanaan Wilayah dan Kota... mungkin bagi masyarakat luar, lebih familiar dengan Planologi? Jurusan yang dimaksud ya itu-itu juga; sudah mengalami pergantian nama beberapa kali sampai sekarang menjadi PWK. Masih bingung kah? Secara singkat, PWK itu jurusan yang mengartikan keinginan terhadap suatu wilayah menjadi langkah-langkah yang bisa diambil. Misalnya: "Saya ingin tempat ini jadi daerah industri.", maka si perencana akan lihat kanan-kiri-oke, lalu bilang "ooh... jauhnya harus *segini* biar kalau sistem penanganan limbahnya kacau, masyarakat gak langsung kena. Jalannya dibuat seperti *ini* biar efisien dan gak bikin macet"...seperti itulah kira-kira.

Tugas PWK sangat mulia kan? Mungkin sebagian bakal berpikir "Kalau perencana kerjanya bener harusnya gak bakal ada tempat macet, kawasan kumuh, banjir, dan sebagainya". Masalahnya kerjaan PWK gak segampang itu... tim perencana bisa dibilang hanya konsultan bagi masyarakat luas. Kalau perencana bilang "tidak", tapi masyarakat setuju bilang "ya", maka keputusan yang diambil adalah "ya" (doh). Bayangkan kalau kita sudah capek-capek belajar fisika, kimia, biologi tapi harus nurutin anak yang cuma belajar bahasa buat ngerjain soal snmptn IPA... udah mah gitu kalau jawabnya salah yang disalahin kita-nya /plakk. Oleh karena itu seorang perencana harus jago memelintir lidah biar bisa meyakinkan orang banyak. Mending kalau cuma se-RT... lah ini ada golongan orang bisnis, orang hukum, politikus, pendatang, dan golongan yang hanya ingin hidup damai.
>Poin pertama saya gak mau masuk PWK: harus jago komunikasi dan debat.

Ada yang tau masalah daerah Bandung Utara? Bandung bagian utara menjadi sorotan orang PWK karena seharusnya tidak boleh ada apa-apa di situ. Tapi yang terjadi adalah di situ jadi daerah wisata belanja *tepok jidat* argumen masyarakat yang satu ini memang gak bisa diapapain lagi. "Hei, di situ tuh daerah patahan... kalau gempa bisa gaswat loh, Cin~", "Oh ya? Gak apa-apalah... hidup kan di tangan Tuhan~" <--true story. Lah iya gak apa-apa kalau cuma situ yang tinggal... anak-anak lo? cucu-cucu lo? terus gue harus bilang wow gitu? Pasti kalau The Peak sana kena gempa bakal BANYAK yang ngomel-ngomel...

Tapi kata dosen, walaupun proyek perencana berakhir kurang memuaskan, setidaknya masyarakat sudah tau apa yang akan terjadi kalau suatu langkah diambil. Jadi, mereka bakal siaga sama berbagai malapetaka; "kalau ada gempa, kita akan lari ke sana", misalnya? *sigh* si perencana pasti cuma bisa senyum miris kalau ngeliat televisi. Lah iya, kita tinggal di daerah pegunungan berapi... Ring of Fire! Kata orang kebumian mah itu daerah batas lempeng konvergen. Daerah rawan gempa. Perencana impor dipastikan takjub lihat negara ini tegak berdiri. (Indonesia adalah bahan studi yang sangat penting bagi orang arsitektur, PWK, geologi, meteorologi dan oseanografi. Tahu kenapa? Kehidupan tak pernah sama /plakk kapan-kapan saya nulis tentang "The Wonder of Indonesia" deh *termakan mata kuliah Sistem Alam Semesta*)

Memang gak setiap rencana dikalahkan dengan "Gak apa-apa lah"... banyak kok proyek yang menuruti kata-kata tim perencana. Saya gak bisa memaparkan contoh berhasilnya kayak apa, soalnya efek perencanaan itu baru kerasa +50 tahun setelah rencana dibuat DAN diimplementasikan. Ini yang saya gak suka... hasilnya harus ditunggu lama dan itu juga belum tentu berhasil. Begini nih... setelah suatu rencana disetejui secara luas, dibuat Perda agar orang-orang yang terikat gak bikin onar. Agar gak ada yang menghancurkan rencana yang mulia ini; demi terciptanya hidup yang sejahtera gitu loh. Tapi tahu kan "budaya" orang sini? Peraturan itu ada untuk dilanggar ._.
>Poin ke-2: harus nunggu lama buat liat hasil perencanaan, itu juga belum tentu sesuai harapan.

Hei... ada yang tahu kenapa Ancol dibuat jadi daerah wisata? Biar orang Bandung wisata ke Jakarta, tukeran sama orang Jakarta menuhin Bandung? Bukan~ itu hasil panjang dari perencanaan loh. Kata Pak Roos, daerah Ancol itu rawan dimasuki penjajah (hah?). Jadi kalau ada angkatan maritim berhasil masuk lewat situ, sangat mudah ngobrak-ngabrik daerah-daerah Pulau Jawa selanjutnya. Oleh karena itu, di situ daerah pertahanan... gak boleh ada kantor pemerintahan, gak boleh ada pemancar radio, gak boleh ada rumah penduduk, gak boleh ada sesuatu yang vital di tempat itu. Orang militer bilang Ancol harus dikosongin... tapi setelah negosiasi, Ancol jadi kawasan wisata dengan syarat 'banyak wilayah terbuka'. Jangan kaget kalau tiba-tiba ada sirine bunyi, orang-orang diusir, terus banyak panzer yang lewat ._. kalau udah gitu kan bisa liat apa perencanaannya berhasil atau gagal. Tapi siapa coba yang ngarep 'ada invasi lewat Ancol'?

*clear throat* Seperti yang saya uraikan sebelumnya, orang PWK itu jago silat lidah... sampe bisa menang sama orang militer, coba. Makan apa? Gak makan yang aneh-aneh sih... rahasia mereka adalah bikin argumen yang gak bisa dibantah; argumen dari ilmu pasti yang sangkut-menyangkut dengan golongan berkepentingan. Jadi memang selain jago dalam bicara, orang PWK juga sangat pintar dalam keilmuan loh ._. mereka belajar dari hukum, budaya, sejarah, sampe cabang-cabangnya IPA. Kayak SMA lagi dong? IYA! konsepnya sih mereka bikin empang ilmu, dangkal tapi luas... terus kerja sama dengan orang-orang ahlinya (contohnya orang geodesi satuin sama sipil), tujuannya sih biar bisa nyatuin orang-orang dalam spektrum yang sama *ciee* mereka kalau belajar up-to-date banget! Kalau ngobrol sama orang PWK segala nyambung deh... makanya orang PWK banyak yang nyasar jadi penasihat bidang lain, gak cuma masalah tata wilayah dan kota doang. Nah begitu nyasar, mereka akan mendalami ilmu terkait... contohnya Pak Roos, beliau mendalami masalah pertahanan dan keamanan.
>poin ke-3: harus bekerja dalam kelompok. <--saya kan moody, jangan-jangan malah ngehancurin dinamika kelompok...

Udah deh, segitu dulu... kata 'dinamika' bikin saya inget tugas fisika ^^; Aneh gak sih saya nulis kayak begini? Comments are highly appreciated~!

2 komentar:

YuirinMaze mengatakan...

cieee~
PWK itu gak GUE banget. Bisa2 baru sedetik argumen aku udah dibantai abis2an ._. tapi Nurul kan pintar~ semua langsung tunduk dgn keunyuanmu~ *OOT*

memang sih, kalo diliat dari deskripsi yang kamu tulis, PWK itu harus belajar lebih mendalam, harus mempunyai pikiran yang argumentatif, intinya lebih ke arah sosial gitu kan?

menurutku, faktor-faktor penghambat UTAMA adalah pengetahuan masyarakat yang cenderung agak dangkal....dan penyakit ini yang terus ada, PASRAH! mereka mikir serahkan aja ke ahlinya, padahal seharusnya sebagai warga negara tentu saja kita mempunyai hak untuk berpendapat ._. apalagi ini PWK kayak konsultan, ilmu komunikasinya harus tinggi supaya terlihat meyakinkan ._.

kayaknya kamu pilih jurusan arsitek karena kamu lebih suka gambar kan :p kayaknya sih orang-orang yang suka gambar kalo gak masuk fsrd yahh masuk sappk *sotoy abis geela*

tapi menurutku kamu cocok kok jadi arsitek, desainmu kan unyu-unyu apalagi bikin maket kan asik banget walaupun repot ._. kalo gak moody sih pasti enjoy bgt...

btw cara ngomongmu berubah ya, terus kayaknya kamu lebih sosial gituh, iri ih ;_; apakah efek karena kenal anak jekardah? kalo aku sih, efek kentaranya : jadi alay, suka bilang ciyus miapah gituh ._. enelan? o'ong! AAAAAAAA

Nurul Azizah mengatakan...

eh tapi kan intinya PWK gak cuma menang debat, tapi bisa bikin solusi yang semua pihak untung. masa sih bisa dibantai? kan andita mah pintar~

^ada yang bilang sappk itu fsrd-nya anak ipa, jadi ya... pernyataan di atas benar*?* dibilang karena suka gambarnya sih enggak juga. ada 'force' misterius yang bikin aku masukin kode sappk pas snmptn. *sampe sekarang gak ngerti kenapa bisa masuk situ*

apanya yang berubah? masih pake "aku" dan "sayah" tuh... mei bilang juga biasa aja :p masih pake logat sunda... dan masih awkward juga kalau cuma ngobrol berdua ._.

itu ciyus miapah kayaknya makin heboh gara-gara iklan axis ya? kalau cuma sekali-sekali mah gpp... anggaplah sebagai parodi wahahah

anditaaa mengapa engkau meng-cancel janjian tanpa ada tanggal ganti~?