2

Fading Away

Today, one of my old friend greeted me on Facebook.
He wrote "Hi", I replied "Hello", then "Long time no see" replied "Yeah indeed"
Then the simple exchange turned into conversation.
Current life, his contract and dream, our friends, their conditions. Yada yada...
and then there's me... struggling to remember the dear friend across computer.

Oh wait, no.
Those written names seem like some faint whispers too.
I know I knew them. I know they were part of my life.
But it feels like that life has ended long time ago.
So far away, surrounded by blinding fog.
Their life is like different timeline alongside of mine.
All of them are happily in contact... and then there's me,
sailing in other stream to unknown spring. 

I just realized.
Those outside Abnopet didn't crossed my path.
Those people outside cannot cross my path.
It is not their fault I am cast like this.
It is the consequences of making important choice.
"School outside the town, say bye to your friends!"
Yeah, bye. 
...I hope my high school life will not fade away as quickly.
(fat chance, barely have presence in there.)
0

Intermezzo?

A year has been passed since the first time I practiced odottemita... true, not much routines are memorized after that (4?), but I did stand in front of mirror doing gestures and footworks here and there... It makes me super conscious of my own body language, gosh. Dunno if it good or bad thing for upcoming event. There is this class that requires real effort in public speaking and presenting ideas ._. The prospect of having stage fright in front of this class is not very compelling.

to iu koto de!
I finally have time to track down this person.
 photo mgwcrtIvOj1ruh3vko1_500_zps8bfb8422.png
He played Tsuyoshi in Jun to Ai...
nicknamed his own character as Aho-chan in his blog. Hahahah nice!
For his character quirks, he often get slapped on face... twice a scene.
After that, he would hold his hand to his face (with interesting expression.)
Maybe that's why I really like him getting slapped.
or when he was martial-art'd by Ryon in PIECE.
...I'm so sorry, Koala-san.
0

Yang Di Atas Itu

Akhir-akhir ini rasanya hidupku terlalu dinamis. Hari masuk harus kejar deadline tugas dan materi, hari libur dipake kegiatan organisasi, hari kejepit absennya dihitung buat ujian. Oh... tambah ujian, praktikum dan kepo-kepo anak fakultas, jadilah saya idup ngurusin kampus minimal 12 jam sehari. Ya mungkin gak ada apa-apanya dibanding yang langsung kecipak-kecipak di jurusan tertentu. Tapi yah... saya yang introvert ini kepaksa ketemu orang sebegitu lamanya, rutin, jarang ada hari yang bener-bener libur.

Rasanya ingin meledak... tapi gak pernah kesampean. Yang ada jadi duduk lemes di selasar Salman sambil mengumpulkan jiwa. Capek, tapi bukan capek fisik... pengen nangis, tapi rasanya gak beralasan... pengen teriak, eh ntar malah ditangkep ibu-ibu masjid. Yaudah, saya diem aja di bangku dekat dispenser teh gratis Salman.

Tahu gak apa yang terjadi di suatu hari? Tiba-tiba ada anak kecil dateng bawa kotak plastik warna biru... Beneran anak kecil itu mah. Saya duduk dan dia berdiri, cuma beda sedikit tingginya. (Ya, memang diriku ini pendek. Gak usah dikomen lagi) Waktu itu dia gak bilang apa-apa, berdiri sebelah saya cuma ngeliatin orang-orang lewat. Karena penasaran, saya nanya deh ke anak itu...
"Dek, lagi jualan?"
...angguk
"Jualan apa?"
dia masih tetep bungkam... tapi tanpa bilang sepatah kata pun, bisa dilihat apa isi kotak misteri itu. Ternyata isinya adalah... tisu muka tanpa parfum!
"Berapa harganya?"
"...Lima ribu, Teh."
"Beli satu bugkus."
Setelah bertransaksi, anak itu hilang dibalik kerumunan orang yang mau shalat. Agak aneh juga kenapa dia gak nawarin ke orang lain lagi. Mungkin cuma saya yang disuruh nangis kali ya?

Dipikir-pikir, minggu itu memang aneh... sebelumnya, saya gagal nyelesein tugas gambar denah. Eh dikasih kesempatan kedua sama Kang Hamal (kata orang sih... dosen yang satu ini terbilang tegas). Tanpa banyak ba-bi-bu dia ngembaliin tugas saya, terus bilang "Kalau besok bisa selesai gak?" ...dengan intonasi yang lembut... udah gitu nawarin keripik lagi! Gak tau ini mah harus bilang apa... duduk weh di kursi deket pintu studio. Sedikit terguncang jiwa-raganya... and my group leader was not helping. Ujug-ujug dia nyamperin terus meluk sampe sesek napas. Orang yang pertama kali ngambil inisiatif kayak gitu di ITB... padahal sebelumnya kita gak terlalu kenal loh. (thanks banget Bunga! Didoain UTS-nya bagus semua)

Keajaiban minggu itu belum berakhir, pemirsah!
Pas lagi stress mau ujian, saya gak bisa belajar secara kalem di rumah. Bolak-balik antara kamar tidur dan ruang tengah, ceritanya mah nyari spot enak buat ngebantai soal. Tapi apa guna tempat belajar kalau terlanjur panik sama sugesti. Materinya banyak banget brow. Mana sempeeet!

Tapi tiba-tiba saja ada yang mengubah sugesti saya:
 photo DSC06420_zps397053a1.jpg
*gasp* Limited merchandise dari album pertamanya Mas Ribu!
"INI DAPET DARIMANA BU???"
... "Tadi ibu abis dari undangan."

Everything is possible. New, Co*a-cola Zero?