0

At a Loss for Words

Today, when I was chilling in breezeway of Salman, someone approached my legs and pulled it. Eh... turned out she is my since-elementary friend. Guess bizarre greeting is kinda normal for us, so I ignored the fact that I was dragged on my bottom. After adjusting my sitting position, I said hi to her. She said hi back and not wasting her time, she went rambling about whatever crossed her mind that time. Actually, talking to her always gives me this warm, fuzzy feeling. Changes are not present even though we enrolled different schools for six years. (Ignoring the fact she had grown quite tall, that is ^^; )

At one point, she told me that she is on her way to complete 1000 origamis. 'She sure had lot time at hand', I thought first, but then she explained that she was very busy in past few weeks. Concerned, I asked the purpose of making those folded papers. Is her friend sick or something? The answer was very surprising to me. She proudly said that the papers are for me... and then she apologized that she 'only' managed 300 of it. I... I was not sure what to say after that, I could only stuttered... that I never gave her anything. 

Her birthday is two months away... I wonder if I could get her something decent.
What is nice enough to cover that, anyway? AAARRGHHH
0

Futsal TPB Cup (minggu 1)

Hari ini adalah hari pembukaan TPB Cup sekaligus hari pertama SAPPK bertanding futsal :) Semuanya keliatan semangat... tapi dibandingkan pemainnya, suporter (dari berbagai fakultas) kelihatan lebih berapi-api. Kayaknya sih ngeluarin stress habis UTS. Contoh kehebohannya nih... 

>FTMD: pake baju serba hitam di hari yang terik, ikat kepala merah, bawa bendera merah juga... semuanya nyanyi (terlalu) kompak sambil diiringi drum. Kayak dari ketertiban banget lah. Eh tapi itu masih normal kan? Pas tim futsal cewek SF sama FTSL keluar, ini anak-anak FTMD ikut gandeng juga... *wasit salaman* --> (nada lingkaran kecil) "Wasitnya modus, wasitnya modus, waaasitnya modus!" *pas time out* --> "Nomor 'lapan kapan turunnya~? nomor 'lapan kapan turunnyaaa~?" dan masih banyak lagi XD 

>FITB: yang laen nyemangatin timnya, ini malah nyanyi lagu religi... ^^; mereka juga nyanyi lagu ummi tapi diganti sama "bumi". Nyanyinya keras banget sampe kedengeran ke gerbang depan.

>FTI: kayaknya suka banget pake "itu sudah biasa, kita juga bisa~ itu sudah biasa, kita juga bisa~" dan yang provokatif, "kiper lawan mampus ajaaa kiper lawan mampus ajaaah". Waktu itu tim cowok FTI bisa menang 3-1 lawan FMIPA; tapi kayaknya FMIPA terpancing juga pas 5 menit terakhir... jadi weh hasil akhirnya 3-4 ._. 

>FTTM: "Di sana SF, di sini kami, di mana-mana kami bercinta~" OTL 

>bicara tentang fakultas sendiri: pake baju piyama, bawa guling bantal... pake/bawa hiasan beratribut jalan (ex: peta, rambu lalu lintas, traffic light), udah gitu nyanyi pake nada gangnam style, put your hands up, gee, dragon ball, dan lagu-lagu girlband Indonesia. Ini pas tim cowok menang juga sampai lempar bantal-guling ke lapangan, nari gangnam style (panitianya juga ikutan) Chaos banget XD 

Ah, cuma meratiin segitu. fakultas laen di sebelah selatan (gandeng suporter sebelah utara) atau tandingnya setelah saya pulang~
 Photobucket
2

Tepuk Jidat Bersama

Kak Ben: "Terus ntar mau ke mana?"
Saya: "Arsitektur aja deh Kak..."
Kak Ben: "Loh emangnya PWK kenapa?"
Saya: "Kayaknya kurang kepake gitu... liat aja, sekarang Bandung amburadul."
-percakapan jaman OSKM

Maaf saya sudah nge-judge PWK sebelum tau isinya. Sayangnya saya tidak akan menarik kata-kata karena setelah menjalani mata kuliah pengenalan jurusan pun anggapan saya ternyata tidak berubah :P Eh tapi kan gak adil kalau saya bilang A tanpa ada argumen, betul? Izinkan saya memaparkan essay panjang yang sebetulnya tidak penting. (enggak panjang-panjang amat sih...)

PWK adalah singkatan dari Perencanaan Wilayah dan Kota... mungkin bagi masyarakat luar, lebih familiar dengan Planologi? Jurusan yang dimaksud ya itu-itu juga; sudah mengalami pergantian nama beberapa kali sampai sekarang menjadi PWK. Masih bingung kah? Secara singkat, PWK itu jurusan yang mengartikan keinginan terhadap suatu wilayah menjadi langkah-langkah yang bisa diambil. Misalnya: "Saya ingin tempat ini jadi daerah industri.", maka si perencana akan lihat kanan-kiri-oke, lalu bilang "ooh... jauhnya harus *segini* biar kalau sistem penanganan limbahnya kacau, masyarakat gak langsung kena. Jalannya dibuat seperti *ini* biar efisien dan gak bikin macet"...seperti itulah kira-kira.

Tugas PWK sangat mulia kan? Mungkin sebagian bakal berpikir "Kalau perencana kerjanya bener harusnya gak bakal ada tempat macet, kawasan kumuh, banjir, dan sebagainya". Masalahnya kerjaan PWK gak segampang itu... tim perencana bisa dibilang hanya konsultan bagi masyarakat luas. Kalau perencana bilang "tidak", tapi masyarakat setuju bilang "ya", maka keputusan yang diambil adalah "ya" (doh). Bayangkan kalau kita sudah capek-capek belajar fisika, kimia, biologi tapi harus nurutin anak yang cuma belajar bahasa buat ngerjain soal snmptn IPA... udah mah gitu kalau jawabnya salah yang disalahin kita-nya /plakk. Oleh karena itu seorang perencana harus jago memelintir lidah biar bisa meyakinkan orang banyak. Mending kalau cuma se-RT... lah ini ada golongan orang bisnis, orang hukum, politikus, pendatang, dan golongan yang hanya ingin hidup damai.
>Poin pertama saya gak mau masuk PWK: harus jago komunikasi dan debat.

Ada yang tau masalah daerah Bandung Utara? Bandung bagian utara menjadi sorotan orang PWK karena seharusnya tidak boleh ada apa-apa di situ. Tapi yang terjadi adalah di situ jadi daerah wisata belanja *tepok jidat* argumen masyarakat yang satu ini memang gak bisa diapapain lagi. "Hei, di situ tuh daerah patahan... kalau gempa bisa gaswat loh, Cin~", "Oh ya? Gak apa-apalah... hidup kan di tangan Tuhan~" <--true story. Lah iya gak apa-apa kalau cuma situ yang tinggal... anak-anak lo? cucu-cucu lo? terus gue harus bilang wow gitu? Pasti kalau The Peak sana kena gempa bakal BANYAK yang ngomel-ngomel...

Tapi kata dosen, walaupun proyek perencana berakhir kurang memuaskan, setidaknya masyarakat sudah tau apa yang akan terjadi kalau suatu langkah diambil. Jadi, mereka bakal siaga sama berbagai malapetaka; "kalau ada gempa, kita akan lari ke sana", misalnya? *sigh* si perencana pasti cuma bisa senyum miris kalau ngeliat televisi. Lah iya, kita tinggal di daerah pegunungan berapi... Ring of Fire! Kata orang kebumian mah itu daerah batas lempeng konvergen. Daerah rawan gempa. Perencana impor dipastikan takjub lihat negara ini tegak berdiri. (Indonesia adalah bahan studi yang sangat penting bagi orang arsitektur, PWK, geologi, meteorologi dan oseanografi. Tahu kenapa? Kehidupan tak pernah sama /plakk kapan-kapan saya nulis tentang "The Wonder of Indonesia" deh *termakan mata kuliah Sistem Alam Semesta*)

Memang gak setiap rencana dikalahkan dengan "Gak apa-apa lah"... banyak kok proyek yang menuruti kata-kata tim perencana. Saya gak bisa memaparkan contoh berhasilnya kayak apa, soalnya efek perencanaan itu baru kerasa +50 tahun setelah rencana dibuat DAN diimplementasikan. Ini yang saya gak suka... hasilnya harus ditunggu lama dan itu juga belum tentu berhasil. Begini nih... setelah suatu rencana disetejui secara luas, dibuat Perda agar orang-orang yang terikat gak bikin onar. Agar gak ada yang menghancurkan rencana yang mulia ini; demi terciptanya hidup yang sejahtera gitu loh. Tapi tahu kan "budaya" orang sini? Peraturan itu ada untuk dilanggar ._.
>Poin ke-2: harus nunggu lama buat liat hasil perencanaan, itu juga belum tentu sesuai harapan.

Hei... ada yang tahu kenapa Ancol dibuat jadi daerah wisata? Biar orang Bandung wisata ke Jakarta, tukeran sama orang Jakarta menuhin Bandung? Bukan~ itu hasil panjang dari perencanaan loh. Kata Pak Roos, daerah Ancol itu rawan dimasuki penjajah (hah?). Jadi kalau ada angkatan maritim berhasil masuk lewat situ, sangat mudah ngobrak-ngabrik daerah-daerah Pulau Jawa selanjutnya. Oleh karena itu, di situ daerah pertahanan... gak boleh ada kantor pemerintahan, gak boleh ada pemancar radio, gak boleh ada rumah penduduk, gak boleh ada sesuatu yang vital di tempat itu. Orang militer bilang Ancol harus dikosongin... tapi setelah negosiasi, Ancol jadi kawasan wisata dengan syarat 'banyak wilayah terbuka'. Jangan kaget kalau tiba-tiba ada sirine bunyi, orang-orang diusir, terus banyak panzer yang lewat ._. kalau udah gitu kan bisa liat apa perencanaannya berhasil atau gagal. Tapi siapa coba yang ngarep 'ada invasi lewat Ancol'?

*clear throat* Seperti yang saya uraikan sebelumnya, orang PWK itu jago silat lidah... sampe bisa menang sama orang militer, coba. Makan apa? Gak makan yang aneh-aneh sih... rahasia mereka adalah bikin argumen yang gak bisa dibantah; argumen dari ilmu pasti yang sangkut-menyangkut dengan golongan berkepentingan. Jadi memang selain jago dalam bicara, orang PWK juga sangat pintar dalam keilmuan loh ._. mereka belajar dari hukum, budaya, sejarah, sampe cabang-cabangnya IPA. Kayak SMA lagi dong? IYA! konsepnya sih mereka bikin empang ilmu, dangkal tapi luas... terus kerja sama dengan orang-orang ahlinya (contohnya orang geodesi satuin sama sipil), tujuannya sih biar bisa nyatuin orang-orang dalam spektrum yang sama *ciee* mereka kalau belajar up-to-date banget! Kalau ngobrol sama orang PWK segala nyambung deh... makanya orang PWK banyak yang nyasar jadi penasihat bidang lain, gak cuma masalah tata wilayah dan kota doang. Nah begitu nyasar, mereka akan mendalami ilmu terkait... contohnya Pak Roos, beliau mendalami masalah pertahanan dan keamanan.
>poin ke-3: harus bekerja dalam kelompok. <--saya kan moody, jangan-jangan malah ngehancurin dinamika kelompok...

Udah deh, segitu dulu... kata 'dinamika' bikin saya inget tugas fisika ^^; Aneh gak sih saya nulis kayak begini? Comments are highly appreciated~!