0

Personal Viewings

Nanana~ my head felt weird so I wrote something pointless.
Just ignore this post, not worth your time.
...
Still staring at the screen? go on, click the post title :/

Halo dunia, aku balik lagi setelah beberapa cobaan beberapa hari ini. Ulangan Akhir Semester (sudah sepaket sama remed yang pasti -_-), disfungsi tubuh, sedikit sakit hati, krisis identitas dan beberapa pemikiran yang agak mengganggu kewarasan. Gak usah dibahas lah ya, toh udah lewat juga, haha. UAS udah lewat? Sisanya tinggal bagi rapot dan libur iyaaay. Orang-orang mungkin udah siap-siap pergi ke luar kota bersama keluarganya masing-masing, beberapa malah berencana merayakan tahun baru di luar negeri. Oh teman-temanku kenapa kalian semua pergi? rasanya sepi liburan di rumah sendiri… not this time, liburan ini aku juga sudah punya rencana. Rencananya sangat sederhana: namatin beberapa game yang ditunda, mengunjungi saudara senasib, belajar bahasa asing (semoga sempet), menggambar strip rikuesan dan membuat komik bersama kedua teman yang agak-agak labil itu *dilempar kulkas*.

--Curahan hati tentang komik Isaac dkk--
Semoga proyek bikin komik ini berjalan lancar sampai selesai. Sebetulnya aku punya perasaan yang campur aduk tentang proyek mahal ini (hello nongkrong di ciwalk, kantung tak berdosa selalu terkuras). Aku jadi agak waswas mengingat kemampuan sendiri yang luar biasa terbatas. Coret kata “agak” dan ganti dengan kata “sangat” pada kalimat sebelumnya. Anak aneh ini dapet bagian inking, bagian yang berpotensi merusak karya kedua temannya yang “omaigat gila keren pisanlah” (quote courtesy of Andita). Walaupun menimbulkan dilemma, aku sebenernya seneng banget diajak kolaborasi. Pas bikin konsep cerita, aku dikasih kesempatan buat numpahin ide yang bisa dibilang udah cukup lama melayang secara random di kepala. Hahaha, “seneng banget” is understatement. Biasanya aku males nyampein ide karena kemampuan komunikasi yang ancur lebur, jadi ya... berbunga-bunga gimana~ gitu waktu ide yang disampein setengah mati itu diterima secara hormat. Halah.

Satu poin lagi penambah perasaan campur aduk: rasanya aneh kalau sepotong ide yang berasal dari imajinasi pengusir sepi beberapa tahun lalu bisa berguna sekarang. Lebih aneh lagi kalau ide tersebut ditangkap dan diinterpretasikan secara berbeda oleh orang lain. Hahaha, karakter Isaac di draft buatan Mei agak beda dengan yang selama ini ada di bayanganku.

--We’re livin in the world of fools--
*nyanyi How Deep is Your Love* Yay, gak ada hubungannya.

Hurr… anda sekalian pasti tahu kan fenomena timnas negara kita yang popularitasnya meroket setelah membabat lawan-lawannya di AFF? Kemanapun pergi sehari setelah pertandingan pasti deh ada yang ngomongin timnas. Stasiun-stasiun TV juga tiap pagi nayangin paling sedikit 1 tayangan yang berhubungan dengan tim berkaos merah itu. Belum selesai… seragam timnas diburu sampai jadi langka, berjuta rupiah bisa didapat para pedagang tiap harinya. Beberapa orang malah sengaja nyari kaos timnas ke outlet official. Antusiasme masyarakat terhadap prestasi timnas memang luar biasa besar. Aku ngeliatnya jadi galau juga. Kenapa? Yah… aku memikirkan keadaan buruk yang bisa terjadi. Misalnya kemaren timnas kalah lawan Filipina dengan perbedaan gol yang besar, bagaimanakah reaksi orang-orang? Paling enggak tayangan tentang El Loco dan Irfan hilang dari banyak stasiun TV.

Oke, inget keramaian setelah Barack Obama terpilih sebagai presiden dan reaksi orang-orang saat sang presiden berkunjung ke Indonesia? Mereka bangga, mengklaim masa kecil Obama di Indonesia. Janji diplomatis orang itu memang… umm memberi harapan*?*, tapi ayolah, berapa bulan sih beliau tinggal di Indonesia? Aku cuma bisa geleng-geleng, akhir-akhir ini kepercayaan Obama di negeri adidaya turun karena kebijakan yang tidak populer. Apa orang-orang masih mengklaim “Obama pernah dibesarkan di Indonesia” kalau beliau terpuruk? I don’t think so.

Tahu Sm*sh? Pasti dong, grup yang dibentuk atas mas-mas peng-cover dance itu sedang berusaha menaikan derajat karirnya (ngomong naon abdi teh). Aku gak bisa ngomong banyak tentang grup itu karena terus terang gak tahu apa-apa, jangankan informasi eksklusif, nama personilnya aja gak apal. Jadi aku teh mau ngomong apa? Yah… banyak orang yang mencaci itu grup, tidak sedikit yang gak suka hanya dengan alasan “plagiat boy band Korea”. Pendapat pribadi sih…kalau si sayah mah gak suka karena lirik lagu yang kurang manly plus cat rambut warna-warni (selera saya adalah karakter berambut hitam legam, fiksi maupun nonfiksi ^^;). Selain 2 alasan itu saya menganggap grup aseli Indonesia itu oke-oke aja. Akunya yang emang aneh atau peristiwa ini ngingetin ke fenomena Justin Haters yang merajalela di internet? Hmm…

Aku nulis 3 paragraf di atas karena ingin mempertegas secara ekstrim sebuah poin yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini: People always judge person by his/her appearance and action then compare it with their social norm. Kalau sesuai dengan nilai dan norma, seseorang akan diterima, kalau gak sesuai akan dijauhi atau bahkan dicibir dan kalau melebihi ekspektasi akan diidolakan. Dari kecil kita dikenalkan mana yang baik dan buruk oleh orang tua kita. Kita juga melakukan sosialisasi lebih luas di sekolah sebelum akhirnya lepas ke masyarakat. Ya, di sekolah berlaku nilai dan norma yang mengikat para penghuninya.

Apa yang terjadi kalau sifat dasar seseorang tidak sesuai dengan harapan lingkungannya? Menyampaikan white lies dan menjadi hipokrit mungkin bisa menyelesaikan masalah. Atau tidak. Jadi seseorang yang bukan merupakan diri sendiri itu bikin cape. Beberapa temanku melakukan manufer hipokrit itu dan aku sudah melihat sisi lelah mereka. *sigh* Aku sendiri juga tahu rasanya. Tahukah kalian aku menghawatirkan kalian? Kalian gak usah jadi orang lain di deket aku, itu bikin aku sedih. Walaupun beberapa dari kalian bilang “diriku yang sebenernya itu nyebelin dan ngebosenin”, aku lebih nyaman kalau kalian jadi diri sendiri. Kemarin seseorang mendadak jadi pendiam… I’m okay with that, aku malah lebih nyaman karena gak usah kepaksa senyum dalam mood yang sedang gak enak (lagi galau, harap maklum). 

Personally, I don’t believe in “be yourself” saying to survive in this damned world, so sad…

0 komentar: